All posts filed under: South Sumatra

Enjoying Palembang Culinary

Local culinary is another perfect reason why people want to go back to a city. Its distinctive taste derives not only from its peculiar spices, but also from the local technique when cooking it. As we might know, Palembang is one of destination which is nationally recognized as culinary city. Not only Pempek (local fish cake) which attracts food hunters when visiting, but some unique cuisines also become famous as city’s signature dish like Mi Celor, Burgo, Laksa, Celimpungan and Model Gendum. One day, I dropped by at a roadside stall. We ordered some dishes like Mi Celor (Noddle with shrimp creamy sauce), Lenggang Panggang (Omelet filled with slices of pempek which are stirred together and grilled, served with local spicy sweet vinegar), Pempek Panggang (Fish cake which is grilled, halved, and then filled with dried and minced salty shrimp), fish fillet smeared by flour which is fried and served with spicy creamy sauce (I forget the name of this dish), and Gohyong (pork grilled, covered by beancurd skin and then fried). Palembang culinary, albeit …

Cap Go Meh ala ala Pulau Kemaro, Palembang

Pada jaman dahulu kala, datanglah seorang putra raja negeri Cina yang bernama Tan Bun Ann ke Sumatera Selatan untuk mencoba peruntungan dagang. Tak lama tinggal disana, ia berjumpa dengan Siti Fatimah, putri raja setempat dan jatuh hati. Tan Bun Ann pun memberanikan diri menghadap ayah Siti Fatimah, raja Sriwijaya, untuk meminang putrinya tersebut. Raja Sriwijaya menyetujui permintaan Tan Bun Ann, dengan syarat Tan Bun Ann harus membawa 9 guci berisi emas ke hadapan sang raja. Tan Bun Ann menyanggupi permintaan raja dan bergegas mengirimkan kabar kepada ayahnya di seberang lautan sana. Mendengar berita tersebut, raja Cina segera memenuhi permintaan anaknya dan mengirimkan guci-guci berisi emas tersebut. Namun tanpa sepengetahuan Tan Bun Ann, ayahnya menyembunyikan batangan-batangan emasnya di bawah tumpukan sawi agar terhindar dari bahaya bajak laut. Begitu kapal kiriman dari Cina sampai di pelabuhan, Tan Bun Ann bersama Siti Fatimah langsung memeriksa guci-guci yang Tan Bun Ann butuhkan untuk melamar pujaan hatinya itu. Ia terkejut dan marah besar mengetahui isi guci-guci tersebut hanyalah tumpukan sawi-sawi yang telah membusuk. Dengan kesal ia membuang semua guci itu …