All posts filed under: Been There

These are some notes that I have made after several visit to some gorgeous places. Hope that you could enjoy it ^_^

WHV di Australia itu Kudu… (Balada WHV di Australia part 3)

Korupsi Umur! Jangan pernah ngaku tua, karena kita sebagai ras Asia dikaruniai oleh muka yang lumayan awet muda ketimbang para bule (Kalo muke lo boros, errr… derita lo itu mah :p). Kadang bule suka bertanya pada saya, “Are you a student? Are you here with Student visa?” Yaaa, bukan salah gue dong ya, kalo saya iyain dan mereka percaya 😀 Sebagai WHV-ers berbudi pekerti luhur, umur saya yang berada di ambang batas ini suka merasa tuwir ketika melihat partner kerja saya kebanyakan berumur 20-25 (bahkan ada yang masih belasan tahun). Yaaa, saya akuin memang agak telat bagi saya untuk mengikuti program WHV. Bagi orang-orang di Australia kebanyakan, umur-umur saya harusnya udah buka usaha sendiri atau–at least–udah punya posisi ok di kerjaan, bukannya lagi nyuci piring atau sikat-sikat WC. Maka dari itu saya selalu mengaku “I’m 23 y/o” setiap kali ditanya umur karena pernah sekali saya jujur menjawab dan respon salah satu co-worker saya adalah “Seriously, you’re xx y/o and you still do the dishwashing?” —–Anyway, dua bos saya umurnya 27 tahun, bete nggak sih?—– Nilai …

Transit in Milan, Whacha Gonna do??

Rush trip alias trip kejar tayang  jarang saya lakukan kalo nggak benar-benar kepepet. Biasanya sih, saya selalu meluangkan beberapa hari untuk menikmati ambians sebuah kota seutuhnya. Dan biasanya pula di sebuah negara, saya bisa mengunjungi lebih dari satu kota. Oleh karena itu, dalam satu kali trip, saya bisa menghabiskan waktu hampir semingguan hanya untuk mengeksplor satu negara. Namun trip beberapa pekan lalu menjadi sebuah pengecualian. Saya dan keluarga yang berencana menyisir sekitar empat negara terpaksa harus “stripping” ceria ala sinetron, berpindah satu negara ke negara lain dalam waktu yang demikian singkat. Maklum, usaha keluarga nggak bisa ditinggal lama-lama, jadilah kami terpaksa berpacu dengan waktu. Setelah tiga hari menyatu dengan alam cantik Swiss, kami melanjutkan perjalanan ke Roma via Milan. Rempong yee, kenapa nggak langsung terbang ke Roma aja dari Swiss, daripada transit-transit segala, buang banyak waktu di jalan. Well, pengennya sih gitu. Tapi berhubung tiket pesawat direct Zurich-Roma lumayan mahal mampus, dan setelah saya membandingkan dengan jalur darat dengan rute Spiez (salah satu kota di Swiss dekat dengan perhentian akhir kami) -Milan-Roma, ternyata selisih harga …

Papal Audiensi bareng Paus Fransiskus di Vatikan

Lapangan Basilika Santo Petrus Vatikan kian padat akan para pengunjung baik yang beragama Katholik maupun bukan, padahal acara baru akan dimulai satu jam lagi. Usai pemeriksaan tas dan jaket, saya bersama teman saya John melintasi gerbang detektor logam nggak jauh dari Pintu Perunggu (Bronze door). Pun kami berbaur dalam kerumunan, mencari spot strategis yang kira-kira memungkinkan untuk dilewati kendaraan Papa Francis, Pimpinan tertinggi umat Katholik. Kursi-kursi yang tersedia hampir penuh terisi. Ratusan orang yang nggak kebagian tempat duduk–termasuk kami–harus puas berdiri di balik pagar pembatas. Ya, mestinya kami berangkat lebih pagi untuk memperoleh spot duduk yang ok, dekat dengan mimbar Papa Francis. Papal Audiensi adalah sebuah acara berkala (Umumnya dilangsungkan setiap hari Rabu. Jadwal bisa dilihat disini) yang digelar oleh pihak Tahta Suci Vatikan, dimana Sri Paus berinteraksi langsung dengan para pengunjung. Sri Paus akan bertegur sapa dengan para audiens. Jika beruntung, kendaraan sang Paus akan berhenti dan beliau akan turun untuk berbincang-bincang sekilas dengan para audiens yang berdiri di balik pagar pembatas. Biasanya pengunjung dapat langsung hadir pada hari H ke alun-alun basilika dan …

Incredible Sahara (Maroko, Pintu Utara Afrika 3, End)

  Minivan terus saja melaju. Perumahan-perumahan warga yang serba kotak kecoklatan di luar jendela perlahan semakin menjarang, berganti dengan dataran gersang yang sesekali beralih menjadi lembah-lembah berliku. Said sang pemandu wisata sudah mewanti-wanti sebelumnya bahwa perjalanan akan berlangsung sangat lama. Oleh karena itu para tante seisi mobil jenuh, mati gaya, kehabisan bahan obrolan karena perjalanan terasa begitu jauh. Semua hanya ingin lekas tiba di tujuan berikutnya, gurun Sahara. Nama gurun ini sendiri sudah akrab melekat di telinga saya semenjak pelajaran IPS pada bangku SD silam. Nama gurun ini kemudian kembali menggaung ketika Anggun C Sasmi melantunkan balad merdu bertajuk “Snow in Sahara” pada debut internasionalnya. Dan setelah itu, gurun Sahara hanyalah sebatas “gurun nun jauh di Afrika sana” yang saya sendiri nggak pernah bermimpi untuk kunjungi (Jaman dulu masih tau diri aja sih, anak kampung begini mana mungkin bisa keluar negeri jauh-jauh sampai Afrika, hihi). Menurut wikipedia, gurun Sahara adalah gurun pasir terluas di dunia. Membentang dari Samudra Atlantik hingga ke laut merah, gurun yang katanya berusia lebih dari dua juta tahun itu berukuran sekitar …

Plesir Singkat ke Philip Island, Australia

Mungkin udah banyak teman-teman yang mengenal Phillip island sebagai salah satu spot sirkuit Grand Prix. Pulau terdekat dengan Melbourne ini kebetulan baru aja didaulat menjadi tuan rumah ajang balap Moto GP paling bergengsi di dunia pada bulan Maret 2016 lalu. Namun Phillip Island nggak cuma punya sirkuit balap loh. Banyak destinasi wisata yang nggak kalah ketjeh untuk disambangi. Tahun lalu, saat status saya masih seorang “turis” di Australia, saya berkesempatan mengunjungi pulau ini. Saya sengaja mereservasi paket tur satu hari, seharga 100 Dolaran berhubung keterbatasan waktu yang saya miliki, dan minimnya info kendaraan umum yang saya peroleh saat itu. Mahal sih, tapi mau gimana lagi… Akses situs wisata di Australia memang terkenal jarang terjangkau oleh kendaraan umum. Kalo kamu nggak punya kendaraan pribadi ya terpaksa membeli paket tur yang ditawarkan oleh sejumlah operator. Sebuah bus menjemput saya nggak jauh dari penginapan. Bersama dengan serombongan turis lainnya, kami siap meninggalkan daratan utama Australia, menyebrangi jembatan menuju pulau di selatan Australia ini. Trip ini akan memakan waktu kurang lebih 11 jam, terhitung dari keberangkatan kami, durasi di …

HOLA SPANYOL! IS ON STORE NOW!!

Bak tereliminasi dari kontes nyanyi di TV, saya melangkah gontai meninggalkan pelataran bandara. Dengan terkantuk-kantuk, saya seret kaki ini sambil menggerutu sebal. Satpam sialan! Niat hati pengen berhemat biaya penginapan, eh malah apes begini diusir keluar tengah malam buta! Saya terus berjalan celingak-celinguk mencari spot yang memungkinkan untuk tidur. Tapi hingga berjalan lebih dari satu kilometer, saya udah jarang menemukan bangunan-bangunan. Semua hanyalah lahan yang gelap dan sunyi. Kota rasanya begitu jauh, cahaya lampu keramaian juga sama sekali nggak kelihatan. Bener-bener berasa terdampar di antah berantah. “Ibiza!! Elo jahat banget sih sama gueee!!” Umpat saya untuk kesekian kalinya. Buku kedua seri perjalanan I’m Not a Backpacker kali ini bakalan mengajak kamu berkeliling tujuh kota ketjeh di negara Flamenco yang super eksotis di selatan benua Eropa. Hola Spanyol siap menerbangkan kamu untuk bertemu Gaudi di Barcelona, berleha-leha di Ibiza, belanja sampai durhaka di Madrid, berimajinasi di negeri dongeng Segovia, Nyasar di lorong-lorong “sinting” Sevilla, terpekur di kota tua Cordoba, dan menikmati paras cantik Granada. Bakalan lebih banyak drama serta tentunya bertaburan bumbu-bumbu petualangan ceria! Kamu nggak …

Kerja di Australia Itu… (Balada WHV di Australia part 2)

Merantau ke negara orang, terutama ke salah satu negara “muwaahall” di dunia itu tantangannya berasa dikuadrat berkali lipat! Terutama jika kamu bukan peraih beasiswa atau sedang tugas dinas yang disponsori orang lain. Nggak ada jatah bulanan yang mengalir cantik ke rekening pribadi untuk memenuhi kebutuhan harian. Kalau nggak kerja, ya nggak bisa makan atau bayar sewa tempat tinggal. Segala sesuatunya harus kamu afford sendiri. Hari-hari awal di Sydney saya lalui dengan lumayan “nyesek di hati, nyesek di kantong”. Saat itu saya baru aja menuntaskan trip Spanyol-Roma-Maroko saya, sebelum kemudian langsung bertolak ke Australia untuk program WHV. Dengan nekad, saya berangkat ke Sydney, hanya berbekal uang 200 AUD. Lo bukan lagi nekad, tapi lo udah gila cuyy!! Bayangin aja, biaya sewa kamar paling murah di pusat kota itu berkisar antara AUD 120 seminggu (sekamar sharing dengan empat sampai enam orang loh! bukan private room of your own and just your self). Iya cuyy, cuma seminggu! Which is berarti sebulan kamu harus menyiapkan uang sebesar hampir lima juta rupiah hanya untuk tempat tidur kamu tiap malam. Belum  lagi …