All posts filed under: recent post

My Bitter Sweet Couchsurfing Experience!

Kalian familiar dong sama yang namanya Couchsurfing, situs jejaring sosial yang memperkenalkan konsep hospitality exchange di dunia traveling itu. Ya, sederhananya para anggota diharapkan saling memberikan tumpangan tempat tinggal kepada anggota dari kota/ negara asing yang kebetulan sedang berkunjung ke kota tempat tinggalnya. Alih-alih membayar sejumlah uang sebagai wujud terima kasih atas tumpangan yang diberikan, kepercayaan dijadikan modal utama para anggota untuk membuka rumahnya lebar-lebar bagi satu sama lain. Couchsurfing (CS) tidak hanya membantu menekan pengeluaran akomodasi saat traveling. Sebagai ajang silaturahmi, dengan menginap di rumah warga lokal yang tahu betul dengan situasi dan kondisi kota yang ia tinggali, tentunya para anggota bisa saling memperkenalkan budaya masing-masing. Tuan rumah alias host bisa memberitahukan apa saja yang harus dan tak boleh dilakukan oleh para surfer (sipenginap), apa yang wajib dicoba, tempat apa saja yang direkomendasikan untuk dikunjungi dan berbagai ‘local stuffs’ yang pantang terlewatkan. Contoh referensi yang saya peroleh dari host yang saya tebengi Sudah sekian kali saya menggunakan jasa CS ketika berpergian ke suatu negara. Berbagai karakter telah saya temui, dan beragam tempat tinggal sudah …

“I’m Not a Backpacker” Keliling Dunia!

Sneak a Peek I’m Not a Backpacker ketiga 😀 Ps. Coming on next summer 🙂 Hi, nama saya Hendra Fu. If you read this, tandanya saya sudah menyelesaikan trip keliling dunia saya dan pulang ke rumah dengan selamat. Perjalanan panjang yang saya impikan sejak kecil dan nggak pernah saya sangka bakalan terwujud akhirnya tuntas sudah. Ini  bakalan menjadi jurnal perjalanan saya selama mengarungi bentangan bumi, sejauh timur dari barat. 15 negara dari empat benua terkunjungi. Kisah ini bakalan dibuka oleh sebuah negara yang membuat hampir setiap orang bertanya-tanya “Why Iran?”, dilanjutkan dengan sesi membeku gila di rangkaian gugusan Kaukasus, hijrah ke daratan Eropa, bernostalgia di Kuba, bergoyang Samba di Brazil, menyisir peradaban Inca di Peru, menyambangi Chile si negara paling ramping di dunia, hingga transit ceria di New Zealand dan ditutup dengan negara benua yang menyandang tagline pariwisata”Nothing like in Australia. This journey would not only become so ambitious, but also suspicious! Ini merupakan perjalanan ternekad yang pernah saya lakukan dalam waktu yang cukup lama. Gimana nggak, dapat dipastikan kemampuan berbahasa Inggris saya nyaris nggak …

Mendadak Ngartis di Nagorno-Karabakh!

Nagorno-Karabakh?? Apaan tuh? Itu dimana? Kok gue baru denger? Jadi begini, pemirsa. Once upon a time, ketika saya masih berstatus mahasiswa jurusan Kajian Wilayah Eropa, saya sempat mempelajari konflik antara dua negara di bumi Kaukasia (Azerbaijan dan Armenia). Tersebutlah sebuah teritori milik Azerbaijan bernama Nagorno-Karabakh. Secara geografis, Nagorno-Karabakh terletak di selatan pengunungan Kaukasus, sekitar 270km di barat kota Baku, ibukota Azerbaijan. “Negara” ini merupakan negara landlocked yang dikelilingi oleh deretan pengunungan tinggi dengan luas sekitar 4400 km persegi. Karena konflik yang berkepanjangan antara Azerbaijan dan Armenia, Nagorno-Karabakh akhirnya memutuskan untuk memerdekakan diri melalui sebuah referendum. Namun sayangnya kemerdekaan ini nggak diakui oleh dunia–hanya ada segelintir negara (termasuk Armenia dan Australia) yang mengakui kedaulatan “negara” ini. Bagaimana kisah konflik antara Azerbaijan dan Armenia ini dan mengapa “negara” ini kemudian memutuskan untuk menentukan nasibnya sendiri menjadi sebuah negara berdaulat bisa kamu google sendiri yah–I don’t have capacity to deal with this (isu sensitif juga soalnya, hihi). Saat mempelajari lebih lanjut latar belakang sejarah “negara” yang namanya ear-catchy banget ini, ditambah lagi dengan iseng saya membrowsing sejumlah informasi tentangnya, saya langsung jatuh …

Ada Drama di Bandara (Shit Happens, Part Two)

Bagi banyak orang, bandara mungkin hanya dijadikan tempat pertemuan dan perpisahan dimana kenangan yang berkutat biasanya nggak jauh-jauh dari lambaian tangan dan punggung yang beranjak pergi atau pelukan yang hangat menyambut dan tawa rindu yang lepas menggelak.  Selain itu banyak orang juga yang merasa nggak ada kisah istimewa yang terjadi di bandara karena bandara hanya pijakan singkat sambil lalu sebelum beranjak ke tujuan berikutnya. Namun lain halnya dengan saya, bandara justru punya sejuta drama yang senantiasa mengakar di dalam ingatan. Lebih dari sekedar tempat mengucap selamat datang dan sampai ketemu lagi,  bandara merekam beragam kisah dan perasaan. Bandara menjadi setting tempat yang nggak kalah penting dibanding obyek wisata proper lainnya dalam petualangan yang saya lakukan. Pengin tahu drama-drama apa aja yang sempat menjadi bumbu “pemanis” perjalanan saya? Salah Bandara Alkisah, saya adalah seorang traveler slordehh. Begitu cerobohnya saya, saya sering kepedean mempercayakan intuisi saya yang terkadang masih perlu dicek dan ricek keabsahannya. Begitulah, pada suatu ketika di sebuah kota bernama Bangkok, saya memesan shuttle bus bandara melalui travel agent. Karena terbiasa menggunakan maskapai Air Asia …

Traveling Buat Apa?

I travel to find a better ME Ada sejumlah alasan yang membuat seseorang mendadak filsufpacker. Entah karena kenangan masa lalunya yang begitu mengecewakan, entah karena kehampaan yang ia tengah rasakan, entah karena baru saja menyaksikan kejadian yang membuatnya tercengang, entah juga karena ia mengidolakan sosok seseorang yang menginspirasi kehidupannya. Yang begini biasanya memaknai segala hal demikian khusuk dan sarat nilai filosofis. Hari-hari yang ia lalui sepanjang perjalanan membuatnya mengimani bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Detail-detail yang ia jumpai, pahit-manis yang ia rasakan, ragam wajah dan karakter yang ia baru kenal menempa pribadinya sehingga ia mengamini bahwa ia telah “lahir baru”. Orang-orang semacam ini biasanya memang mengalami transformasi diri. Kita akan menemukan dirinya yang berbeda dibandingkan dulu sebelum melakukan banyak perjalanan. I travel just because I want to Nggak pakai ribet, nggak pakai drama, nggak mau pusing dengan segala tetek bengek bernama filosofi hidup dan alasan menye-menye lainnya. Yang ia pikirkan adalah, I need a short escape, gue butuh liburan, gue mau menenangkan pikiran, gue mau having fun, gue mau entertain my self. Dia nggak butuh benturan …

To Do List in Rome

Buongiorno a tutti! Selamat pagi Roma yang begitu cerah meriah di musim panas. Terik mentari menyambut saya dan keluarga yang siap mengeksplor kota sarat akan peninggalan peradaban terbesar di dunia ini. Berhubung sebelumnya saya sudah pernah mengunjungi kota ini setahun sebelumnya, saya cukup merasa percaya diri untuk mengajak mereka jalan-jalan berkeliling. Ya, luas kota Roma masih bisa ditakhlukan dengan langkah-langkah kaki, meski beragam moda transportasi seperti metro dan bus siap mengangkut siapa saja dengan nyamannya. Rome wasn’t built in one day! Konon kabarnya Roma memperoleh namanya dari salah satu nama pendirinya, Romulus yang diceritakan membunuh saudaranya, Remus, seteah sama-sama berinisiatif membangun kota tersebut. Sejarah mencatat bagaimana Kekaisaran Romawi kuno sempat mendominasi Eropa Barat hingga Laut Tengah di bawah kepemimpinan Julius Caesar. Didirikan sejak tahun 753 SM, Roma sempat menjadi kota terbesar di dunia pada tahun 100 SM- hingga 400 M.  Jejak peninggalannyapun tersebar, tidak hanya pada bangunan-bangunan  dan artefak, tetapi juga pada nilai-nilai dan sistem budayanya–masih inget dong dengan istilah Pax Romana yang mendunia itu? Pasang surut kedigdayaan bangsa yang pernah berkuasa sekitar 500 tahun …

Euforia Paris sang Tuan Rumah UEFA 2016

Bulan Juli awal 2016 lalu, saya beserta keluarga beserta keluarga berkesempatan mengunjungi Paris, ibukota Perancis yang dikenal dengan gelar the city of light. Mendarat di bandara Paris Beauvais, kami menghabiskan waktu kurang lebih dua jam dalam perjalanan ke pusat kota tempat kami akan menginap. Kala itu musim panas, mentari bersinar demikian benderang, padahal jam tangan saya sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Saya merasa sangat beruntung karena mereservasi penginapan tidak jauh dari beberapa obyek wisata wajib kunjung. Salah satunya adalah Moulin Rogue, si Kincir Merah yang terletak hanya beberapa blok dari Metro stasiun saya barusan diturunkan. Tempat ini semakin mendunia setelah sempat dijadikan judul film yang menyabet berbagai penghargaan bertaraf internasional seperti Academy Award dan Golden Globe pada tahun 2002 silam. Moulin Rogue malam itu demikian hingar-bingar tidak hanya oleh para turis mancanegara, tetapi juga oleh La Parisien alias warga lokal. Karena kelaparan, kami tidak langsung menuju penginapan. Kami menemukan sebuah restoran Asia di pinggir jalan di salah satu lorong persimpangan dan langsung memesan makanan tak lama setelah seorang pelayan menyodorkan kartu menu. Seraya menunggu pesanan tiba, mata saya tertuju …