All posts filed under: recent post

Euforia Paris sang Tuan Rumah UEFA 2016

Bulan Juli awal 2016 lalu, saya beserta keluarga beserta keluarga berkesempatan mengunjungi Paris, ibukota Perancis yang dikenal dengan gelar the city of light. Mendarat di bandara Paris Beauvais, kami menghabiskan waktu kurang lebih dua jam dalam perjalanan ke pusat kota tempat kami akan menginap. Kala itu musim panas, mentari bersinar demikian benderang, padahal jam tangan saya sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Saya merasa sangat beruntung karena mereservasi penginapan tidak jauh dari beberapa obyek wisata wajib kunjung. Salah satunya adalah Moulin Rogue, si Kincir Merah yang terletak hanya beberapa blok dari Metro stasiun saya barusan diturunkan. Tempat ini semakin mendunia setelah sempat dijadikan judul film yang menyabet berbagai penghargaan bertaraf internasional seperti Academy Award dan Golden Globe pada tahun 2002 silam. Moulin Rogue malam itu demikian hingar-bingar tidak hanya oleh para turis mancanegara, tetapi juga oleh La Parisien alias warga lokal. Karena kelaparan, kami tidak langsung menuju penginapan. Kami menemukan sebuah restoran Asia di pinggir jalan di salah satu lorong persimpangan dan langsung memesan makanan tak lama setelah seorang pelayan menyodorkan kartu menu. Seraya menunggu pesanan tiba, mata saya tertuju …

Aplikasi Online Visa Selandia Baru

Kabar gembira untuk kita semua, apply Visa New Zealand di Indonesia sekarang sudah bisa dilakukan secara Online–dengan catatan, paspor masih harus disetor ke VFS New Zealand di Jakarta. Tapi jangan sedih, aplikan nggak perlu datang langsung untuk menyetor paspor kok, cukup menggunakan pos atau jasa antar jemput dokumen yang disediakan oleh VFS New Zealand ajah 🙂 And the other good news is, IT’S WAY CHEAPER than usual paper application loh. Aplikasi manual, visa fee IDR 1.800.000,- dengan VFS fee IDR 240.000,- Aplikasi Online, visa fee 165 NZD alias 1600.000,-an Rupiah dengan VFS fee IDR 180.000,- Prosedur Aplikasi: 1. Buat akun baru melalui website ini . Jangan lupa memverifikasi akun dengan mengklik link yang dikirimkan melalui email yang telah didaftarkan 2. Kembali login ke web di atas untuk mengisi kelengkapan data pada formulir online. 3. Setelah mengisi data formulir, upload sejumlah dokumen yang diminta pada halaman supporting document. Perhatikan spesifikasi foto yang diminta. 4. Lakukan pembayaran dengan kartu kredit pada halaman pembayaran. Setelah melakukan pembayaran jangan lupa print halaman pembayaran sebelum beralih ke halaman berikutnya. 5. Bawa …

Aplikasi Visa Brazil

Visa Brazil adalah salah satu visa yang aplikasinya ngeri-ngeri sedapp buat saya, meski sebenarnya persyaratan yang harus dilengkapi nggak lebih rumit ketimbang visa Schengen, Australia ataupun visa lain pada umumnya. Membaca sejumlah blog dan postingan beberapa teman awalnya sempat membuat kewaspadaan saya sedikit ditingkatkan. Gimana nggak, menurut gosip-gosip yang saya dengar, aplikan harus menyiapkan dana yang cukup besar, kalau bisa di atas 50juta bahkan sampai 100jutaan #yoloo duit darimana akang 😭😭 Belum lagi kadang suka diminta dokumen yang biasanya nggak diminta di checklist. Untungnya dengan segala persiapan memadai, saya mencoba mengajukan aplikasi ke Menara Mulia dengan membawa semua dokumen yang tercantum di checklist maupun dokumen penunjang yang walau nggak diminta tapi akan lebih baik disertakan untuk memfasilitasi proses pengajuan visa. Saya nggak akan hanya memposting tata alir pengajuan berikut dokumen apa saja yang harus disertakan. Saya juga akan menambahkan tips-tips yang meski belum pernah dibahas tapi sekiranya mungkin bisa membantu (berdasarkan pengalaman saya mengajukan kemarin) In short, proses pengajuan visa kurang lebih begini: 1. Mengisi form online dari web carta.itamaraty.gov.br/en-us/visa_application_form.xml dan mencetak bukti validasi pengisian …

Tinggal di Australia, Yay or Nay?–(Balada WHV part 4)

Perkenalkan, saya adalah seorang anak kampung yang tinggal di sebuah kota kecil yang sampai sekarang nggak terjamah oleh sebuah peradaban bernama MALL. Ya, Saya lahir dan dibesarkan di kota yang begitu bersahaja sehingga nampaknya enggan berdandan kelewat wahh dan memiliki prinsip saklek “cintai aku apa adanya”. Oleh karena itu, karena terkungkung sekian tahun dalam ruang lingkup seadanya membuat saya menciptakan mimpi-mimpi yang demikian besar. Salah satunya adalah minggat dari kota ini dan start earning my future somewhere out there, beneath the pale moonlight. Ya, saking jenuhnya belasan tahun “terpenjara” dalam rutinitas di area yang sama, rasanya saya pengen banget bisa kabur ke kota lain dan memulai hidup baru yang penuh dengan warna-warni kejutan yang bakalan nggak dinyana nggak diduga. Tuhan mengabulkan doa saya. Saya nggak cuma diijinkan untuk mencicipi pahit-getirnya berjuang di ibukota negara tercinta Jakarta. Tuhan memberikan bonus super istimewa, saya memperoleh kesempatan untuk hijrah ke sebuah negara megapolitan yang wakwaw gemerlapnya. Ya, saya pindah dan bekerja di Sydney, Australia. Meski nggak terlalu sulit beradaptasi dengan fenomena gegar budaya yang biasanya orang alami, awal mula mengadu nasib …

Transit in Milan, Whacha Gonna do??

Rush trip alias trip kejar tayang  jarang saya lakukan kalo nggak benar-benar kepepet. Biasanya sih, saya selalu meluangkan beberapa hari untuk menikmati ambians sebuah kota seutuhnya. Dan biasanya pula di sebuah negara, saya bisa mengunjungi lebih dari satu kota. Oleh karena itu, dalam satu kali trip, saya bisa menghabiskan waktu hampir semingguan hanya untuk mengeksplor satu negara. Namun trip beberapa pekan lalu menjadi sebuah pengecualian. Saya dan keluarga yang berencana menyisir sekitar empat negara terpaksa harus “stripping” ceria ala sinetron, berpindah satu negara ke negara lain dalam waktu yang demikian singkat. Maklum, usaha keluarga nggak bisa ditinggal lama-lama, jadilah kami terpaksa berpacu dengan waktu. Setelah tiga hari menyatu dengan alam cantik Swiss, kami melanjutkan perjalanan ke Roma via Milan. Rempong yee, kenapa nggak langsung terbang ke Roma aja dari Swiss, daripada transit-transit segala, buang banyak waktu di jalan. Well, pengennya sih gitu. Tapi berhubung tiket pesawat direct Zurich-Roma lumayan mahal mampus, dan setelah saya membandingkan dengan jalur darat dengan rute Spiez (salah satu kota di Swiss dekat dengan perhentian akhir kami) -Milan-Roma, ternyata selisih harga …

Tips Ngegembel di Eropa bareng Keluarga

Ngetrip bareng keluarga terkadang membutuhkan kinerja ekstra. Drama-drama yang kita hadapi ketika ngetrip bersama keluarga biasanya lebih lebay ketimbang saat sedang ngetrip sendiri. Beberapa pekan lalu saya bersama keluarga berkesempatan untuk plesir cantik ke sejumlah negara di Eropa. Dan seperti trip-trip keluarga sebelumnya dimana kami memang nggak pernah membook paket tur dari travel agent, kali itupun kami mengandalkan itinerari yang saya buat untuk berkeliling kota. Serunya trip kali, keluarga saya belajar banyak hal baru yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Ini kali pertama mereka menginap di dorm bersama 3 turis asing. Pertama kalinya juga bagi mereka terlantar di antah berantah, entah guling-gulingan di rerumputan taman menanti keberangkatan bus, entah terkapar di bandara berjam-jam menanti penerbangan. Mereka juga saya paksa untuk naik bis malam berjam-jam lamanya untuk pindah dari satu negara ke negara lain. Intinya, trip kali ini level capeknya sedikit dieskalasi. Meski banyak hal yang membuat saya agak stres karena ternyata trip bersama keluarga ke Eropa lebih bikin degdegserr ketimbang ke negara-negara Asia pada umumnya, so far saya cukup berbangga karena Fameurope-trip ala gembel kali …

Papal Audiensi bareng Paus Fransiskus di Vatikan

Lapangan Basilika Santo Petrus Vatikan kian padat akan para pengunjung baik yang beragama Katholik maupun bukan, padahal acara baru akan dimulai satu jam lagi. Usai pemeriksaan tas dan jaket, saya bersama teman saya John melintasi gerbang detektor logam nggak jauh dari Pintu Perunggu (Bronze door). Pun kami berbaur dalam kerumunan, mencari spot strategis yang kira-kira memungkinkan untuk dilewati kendaraan Papa Francis, Pimpinan tertinggi umat Katholik. Kursi-kursi yang tersedia hampir penuh terisi. Ratusan orang yang nggak kebagian tempat duduk–termasuk kami–harus puas berdiri di balik pagar pembatas. Ya, mestinya kami berangkat lebih pagi untuk memperoleh spot duduk yang ok, dekat dengan mimbar Papa Francis. Papal Audiensi adalah sebuah acara berkala (Umumnya dilangsungkan setiap hari Rabu. Jadwal bisa dilihat disini) yang digelar oleh pihak Tahta Suci Vatikan, dimana Sri Paus berinteraksi langsung dengan para pengunjung. Sri Paus akan bertegur sapa dengan para audiens. Jika beruntung, kendaraan sang Paus akan berhenti dan beliau akan turun untuk berbincang-bincang sekilas dengan para audiens yang berdiri di balik pagar pembatas. Biasanya pengunjung dapat langsung hadir pada hari H ke alun-alun basilika dan …